Manusia dilahirkan dengan kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dan karena itulah manusia menjadi makhluk paling sempurna di Bumi ini. Akal pikiran dan perasaan hati, itu semua ada dalam diri manusia. Dengan akal pikiran manusia dapat melakukan suatu hal dengan sangat baik. Ini yang membedakan manusia dengan hewan yang memang tidak memiliki akal. Hati membuat seseorang dapat merasakan sesuatu. Terkadang perasaan itu tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Senang, susah, sedih, gugup, marah, bangga, sakit, bahagia merupakan perasaan umum yang ada pada setiap orang.
Tak
bisa dilihat, tak bisa disentuh, tidak dapat diraba, tidak pula dapat
didengar. Kita dibuat semangat, senang, bahagia, terasa melayang,
terkadang dunia ini serasa milik kita. Tapi di sisi lain dia dapat
membuat seseorang sedih, marah, kesal, jengkel, sebal bahkan benci.
Itulah cinta dan hanya bisa dirasakan dengan hati.
Bila
seseorang sedang jatuh cinta tentu ia berharap gayung bersambut. Mau
makan, mau tidur atau melakukan aktivitas lainnya, selalu teringat orang
yang dicinta, itulah cinta.
Mencintai
itu indah, tapi lebih indah bila dicintai dan jauh lebih indah bila
saling mencintai. Tapi apakah cinta pada setiap orang sama? Tidak.
Setiap orang memiliki rasa cinta yang berbeda. Entah cinta kepada
pasangannya, keluarga, teman, benda, atau lainnya.
Sekarang
ini cinta identik dengan seks. Kebanyakan pria mengungkapkan rasa cinta
pada wanita, karena menginginkan seks. Sedangkan wanita memberikan seks
karena menginginkan cinta dari si pria. Banyak sekali pria di dunia ini
yang hanya memanfaatkan wanita hanya untuk mendapatkan seks. Berbagai
cara pun dilakukan untuk menaklukkan hati si wanita. Mulai dengan modal
tampang, harta, jabatan, dan lainnya. Wanita pun begitu, mereka berusaha
mendapatkan perhatian dari si pria dengan kecantikan wajah, lekuk
tubuh, suara yang lembut atau dengan cara lain. Semua itu wajar saja di
lakukan selama tidak merugikan orang lain, karena memang di dunia ini
diciptakan berpasang-pasangan. Seperti air dan api, siang dan malam,
panas dan dingin, pria dan wanita. Sudah kodrat manusia untuk saling
menarik perhatian dengan lawan jenis.
Tapi
kita sering lupa atau tidak tahu bahwa sebenarnya cinta itu mencakup
keseluruhan dan ada cinta yang jauh lebih penting dan patut ditanam
dalam diri kita. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, keluarga,
teman, lingkungan, bangsa dan negara. Hakekat cinta yang sebenarnya
adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Cinta
kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan cinta yang sesungguhnya. Dia yang
menciptakan alam semesta beserta isinya. Dia yang menghidupkan dan
mengambil kembali. Dia yang Maha membolak-balikkan hati dan Ia Maha
segalanya. Tidak ada yang patut disembah selain Dia.
Setiap
agama memiliki aturan sendiri. Agama mengajarkan kebaikan. Di dunia ini
ada orang yang beragama ada pula yang berpaham komunis. Orang komunis
tidak mempercayai adanya Tuhan. Mereka hanya yakin mereka hidup karena
sudah hukum alam dan mereka tidak mempercayai bahwa mereka akan dimintai
pertanggungjawabannya setelah meninggal. Sedangkan kita yang beragama
yakin bahwa setelah mati ada kehidupan selanjutnya. Di mana kita akan
mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di dunia.
Sebagai
orang yang beragama kita patut mensyukuri apa yang kita miliki. Iman,
kesehatan, kecerdasan, kekayaan, dan nikmat-nikmat lain yang begitu
banyak Ia berikan pada kita semua. Nikmat-nikmat itu tidak akan dapat
dicatat semua walau Bumi jadi kertasnya dan lautan jadi tintanya.
Lalu
apakah kita telah mensyukuri? Atau malah mengingkari? Mensyukuri itu
memang tidak mudah. Tapi dengan mudahnya kita sering mengingkari.
Sepatutnyalah sebagai orang beragama kita mensyukurinya dengan
menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan Tuhan Yang Maha
Esa. Dan harus dibuktikan dengan perkataan, perbuatan dan tindakan
meskipun sangat sulit menjalankannya seratus persen (sejujurnya saya pun
belum bisa menjalankannya secara maksimal). Semua butuh proses dan
alangkah baiknya jika dari waktu ke waktu grafiknya terus meningkat
jangan selalu datar apalagi turun.
Sembilan
bulan kita berada dalam kandungan ibu. Setelah lahir kita dirawatnya
dengan penuh kasih sayang. Bapak bekerja banting tulang setiap hari
untuk menafkahi keluarga. Cinta mereka terhadap anak-anaknya begitu
besar. Anak tidak akan dapat membalas jasa-jasa orang tua sampai kapan
pun. Sebagai anak tentu kita mencintai mereka. Hanya saja sebesar apa
cinta kita terhadap mereka. Ridho Allah SWT tergantung ridho orang tua,
artinya Allah memerintahkan kita untuk selalu menghormati, menyayangi,
dan mencintai mereka dengan sepenuh hati. Sebagaimana mereka menyayangi
kita dengan kasih sayang yang tak terbatas. Jaga ucapan, perangai,
perbuatan kita jangan sampai menyakiti perasaan hati orang tua. Kita
wajib membuat mereka senang, bahagia dengan berbagai cara selama cara
itu diridhai oleh Allah SWT.
Keluarga
adalah mutiara paling berharga, harta tak ternilai, rumah paling indah.
Keluargalah yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian
seseorang. Hidup tanpa keluarga tidak ada artinya. Coba bayangkan
tinggal di rumah yang sangat mewah, serba berlebih tetapi dalam suasana
keluarga yang tidak harmonis. Kurang atau tidak mendapat perhatian dari
kedua orang tua, kakak, maupun saudara lainnya karena mereka terlalu
sibuk bekerja. Keadaan rumah yang sepi dari canda tawa, keriangan,
kegembiraan, dan kebahagiaan batiniah yang rasanya melebihi dari
kesehatan jasmaniah. Tentu merasa sangat sedih dan tidak ingin tinggal
dalam suasana keluarga seperti itu. Tetapi coba kita bayangkan bila kita
tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari bilik bambu dengan suasana
keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, kerianggembiraan, canda
tawa, kenyamanan dan ketentraman hati yang penuh dengan kebahagiaan
tentu dunia ini akan menjadi terasa sangat indah. Karena itulah mengapa
keluarga merupakan mutiara paling berharga, harta tak ternilai, dan
rumah paling indah.
Teman
juga termasuk salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap
pembentukkan kepribadian seseorang. Bergaul dengan tukang minyak wangi
kecipratan wanginya, bergaul dengan tukang ikan kecipratan bau amis
ikan. Kita harus extra hati-hati dalam memilih teman tapi bukan berarti
membeda-bedakan dalam berteman, karena jika tidak bila kita salah
bergaul bisa-bisa kita terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Sebisa
mungkin mencari teman yang dapat memberi pengaruh positif pada kita dan
semaksimal mungkin kita dapat membawa pengaruh yang positif pula pada
teman kita. Tapi bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan orang
yang sering melakukan hal negatif, karena bagaimanapun juga memiliki
satu musuh itu sudah banyak tetapi memiliki seratus teman masih kurang.
Bila kita memilki teman yang sering melakukan hal negatif paling tidak
kita hanya berteman atau bergaul dengan mereka saat mereka melakukan hal
yang positif saja dan ketika mereka sedang melakukan hal negatif maka
kita ingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan itu salah tetapi bila
tidak di gubris tinggalkan saja.
Cintailah
lingkungan, mulai dari keluarga, rumah, sekitar tempat tinggal,
lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lingkungan lainnya. Karena
dengan mencintai lingkungan kita akan selalu berusaha menjaga lingkungan
agar tetap bersih, indah, asri dan sehat. Meskipun pada kenyataannya
sering
bertolak belakang dengan apa yang di harapkan. Tapi paling tidak
tanamkan dalam lubuk hati yang paling dalam bahwa kita cinta pada
lingkungan dan realisasikan dengan perkataan, perbuatan dan tindakan.
Mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan mulai saat ini.
Belakangan
ini rasa cinta pada tanah air sepertinya semakin berkurang. Ini
terbukti ketika saya sedang duduk dengan teman saya dan saat itu kami
melihat bendera merah putih dan saya bertanya pada teman saya, bagaimana
menurut kamu dengan bendera Merah Putih? Saya terkejut ketika mendengar
jawabannya. Dia bilang " ahh bendera Merah Putih ga ada maknanya bagi
gua. " Kurang lebih seperti itu. Padahal kalau kita menilik ke belakang
dibalik berkibarnya Sang Saka Merah Putih sudah sepatutnya kita memilki
rasa hormat yang sangat terhadap bendera Merah Putih. Meskipun bendera
tersebut hanya berwarna Merah dan Putih, tetapi memiliki makna yang
sangat dalam. Merah adalah warna darah kita dan putih adalah warna
tulang kita. Dan untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di ujung tiang
tertinggi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar yang
dilakukan selama ratusan tahun oleh para pahlawan kita di masa lalu.
Mereka dengan gigih memperjuangkan bangsa ini agar terbebas dari
penjajahan dan mengibarkan Merah Putih di ujung tiang tertinggi dengan
mempertaruhkan nyawa mereka demi kemerdekaan bangsa ini. Untuk itulah
sudah sepatutnya kita mencintai dan menghormati para pahlawan kita serta
bendera Merah Putih dan bangga melihat bendera Merah Putih berkibar di
ujung tiang tertinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar